Posts

Goenawan Mohamad -Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai

Image
https://www.pexels.com/photo/dramatic-sand-dunes-at-sunset-in-yazd-iran-34106266/   Gurun pasir tak sepenuhnya dialahkan, dan cadar selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang. Saya percaya iman adalah soal menemukan jawaban yang benar. Semakin rapi jawaban itu, semakin tenang rasanya. Tuhan pun pelan-pelan menjadi sesuatu yang bisa dijelaskan—dengan bahasa yang tepat, dengan istilah yang sudah disepakati—sehingga kedekatan dengan Sang Pencipta terasa seperti sesuatu yang dapat dipastikan. Namun ketika membaca  Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai  karya Goenawan Mohamad, ketertiban itu retak, dan menyisakan sebuah celah kecil yang diam-diam menuntut untuk direnungi. Buku Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai terdiri dari sembilan puluh sembilan esai, dan meskipun masing-masing berdiri sendiri, semuanya berdenyut pada satu pikiran pokok yang sama: kebera...

Elizabeth Kolbert -The Sixth Extinction

Image
Photo by Teju: https://www.pexels.com/photo/the-shore-and-seascape-under-a-cloudy-sky-16233057/ The Sixth Extinction: An Unnatural History berbicara tentang kepunahan bukan sebagai kisah masa lalu melainkan sebagai proses yang sedang berlangsung dan sebagian besar luput dari perhatian sehari-hari. Elizabeth Kolbert menempatkan kepunahan dalam rentang waktu geologis yang panjang, lalu secara perlahan memperlihatkan bagaimana peristiwa serupa kini kembali - bukan karena tumbukan steroid, tetapi karena aktivitas manusia. Buku ini disusun dengan bergerak maju mundur antara manusia masa lalu dan masa kini. Kolbert mengulas lima kepunahan massal sebelumnya - termasuk peristiwa yang mengakhiri era dinosaurus-, untuk menunjukkan bahwa kepunahan selalu menjadi bagian dari sejarah bumi. Namun perbandingan itu justru memperjelas perbedaan utama kepunahan keenam: kali ini penyebabnya bukan kekuatan alam yang tiba-tiba, melainkan akumulasi tindakan manusia yang berlangsung pelan, konsisten, dan se...

Tozikazhu Kawaguchi Before The Coffee Gets Cold

Image
Photo by Caio : https://www.pexels.com/photo/black-and-grey-ceramic-cup-with-hot-coffee-69975/ Setiap orang , di satu titik dalam hidupnya, pasti pernah berharap bisa kembali ke masa lalu.  Hanya sekali saja - untuk memperbaiki sesuatu yang salah, mengucapkan kata yang yang tak sempat diucapkan, atau mengambil keputusan yang dulu terasa keliru. Kita meyakini bahwa jika masa lalu bisa diperbaiki, maka masa depan pun akan berubah menjadi lebih baik. Namun dalam Before The Coffee Gets Cold karya Toshikazu Kawaguchi justru mematahkan keyakinan itu.  Dalam dunia kecil sebuah kafe bernama   Funiculi Funicula , orang memang bisa kembali ke masa lalu. Tapi dengan satu aturan: masa depan tidak akan berubah. Apa pun yang dilakukan, apa pun yang diucapkan, hasil akhirnya akan tetap sama. Takdir berjalan sebagaimana mestinya. Premis ini menarik—bahkan provokatif—karena sejak awal ia menolak ilusi bahwa hidup bisa “diperbaiki”. Justru karena premisnya sekuat itu, saya berharap buku i...

Keigo Higashino - Malice

Image
  Photo by   Rosemary Williams   on   Unsplash Beberapa waktu lalu, saya pergi ke toko buku. Di rak, berderet nama Keigo Higashino - penulis asal Jepang yang konon dijuluki "raksasa" dalam dunia misteri modern. Ada banyak judul, dengan sampul-sampul yang menarik. Saya memilih satu: Malice. Sebuah kata sederhana yang artinya "niat jahat".  Sudah lama saya tidak membaca novel misteri yang membuat saya berhenti sejenak hanya untuk berpikir; mengapa penulis menulis cara ini? Biasanya, misteri memancing kita menebak siapa pelakunya. Tapi dalam Malice karya Keigo Higashino, ia memilih arah berbeda. Bukan tentang siapa, melainkan mengapa. Sebuah pergeseran sederhana yang ternyata mengubah seluruh pengalaman membaca. Kisahnya dimulai dengan kematian Kunihiko Hidaka, seorang penulis terkenal. Ia ditemukan tewas di rumahnya oleh istri dan sahabatnya, Osamu Nonoguchi. Dalam waktu singkat, pelakunya terungkap, dan bahkan mengaku. Seolah semua sudah selesai. Tapi detektif Ka...

Nora Ephron - I Feel Bad About My Neck

Image
Picture by Samuel Becerra from pexels Suka tidak suka, kita akan menjadi tua. Tubuh tidak lagi sama, kulit mulai mengendur, rambut rontok, dan leher -biasanya bergelambir dan sulit untuk ditutupi. Topik yang sering kita hindari ini justru digarap dengan penuh humor oleh Nora Ephron, penulis, jurnalis, sekaligus sutradara film legendaris (When Harry Met Sally, You've Got Mail). Ephron dikenal dengan gaya menulisnya yang jenaka, tajam, dan tanpa basa-basi. Dalam bukunya I Feel Bad About My Neck: And Other Thoughts on Being a Woman , ia menulis kumpulan esai tentang kehidupan perempuan paruh baya: rasa kehilangan, anak-anak yang tumbuh lalu pergi, hingga kegelisahan kecil yang remeh tapi nyata - seperti obsesi pada tas tangan, misalnya. Namun, jangan bayangkan tulisannya berat dan muram. Ephron justru mengajak kita menertawakan hal-hal yang biasanya membuat perempuan resah. Yang membuat saya jatuh hati adalah, cara bertuturnya yang ringan, namun cerdas. Ia tidak menutupi kekurangan, m...

Pramoedya Ananta Toer - Perempuan-perempuan di Sekitar Pram

Image
Membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer bagi saya bukan sekadar membaca sastra. Ini adalah perjumpaan yang menyakitkan dengan sejarah - dan dengan sisi kemanusiaan yang terlalu sering disisihkan dari pusat narasi. Di dalam karyanya, saya menemukan luka yang tidak dibentangkan secara dramatis, tapi disisipkan perlahan, seperti duri yang tertanam dalam, nyaris tak terlihat tapi terus terasa. Saya membaca Bumi Manusia , Anak Semua Bangsa , Jejak Langkah , Rumah Kaca, Gadis Pantai, Perburuan, Arus Balik, dan juga Panggil Aku Kartini Saja . Buku-buku itu tidak hanya membentangkan sejarah Indonesia dari sudut pandang yang berani dan apa adanya, tapi juga menelusupkan cerita-cerita yang selama ini nyaris tak mendapat tempat: cerita tentang perempuan, tentang ketertindasan yang diam, dan tentang bagaimana sistem mengatur siapa yang boleh bicara, dan siapa yang harus tetap diam. Pram tidak menulsi dari tempat yang aman. Ia menulis dari tanah buangan, dari tempat di mana suara ditindas dan ke...

Hujan Bulan Juni - Sebuah Catatan Tentang Kesetiaan yang Senyap

Image
Hujan Bulan Juni, sebuah catatan tentang kesetian yang senyap. Puisi ini tidak berteriak. Ia tidak datang membawa drama, janji yang meledak-ledak, atau rayuan yang mendayu-dayu. Ia datang perlahan, sebagaimana hujan bulan Juni yang tak seharusnya turun, tapi tetap jatuh juga - diam-diam, tanpa rencana. "Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni," tulis Sapardi. Dan dalam satu baris itu, kita diseret masuk ke dalam perasaan yang tak pernah selesai dibicarakan manusia: rindu yang tak bisa ditunjukkan, cinta yang tidak bisa diucapkan, dan ketulusan yang memilih untuk bertahan -meski tahu tak akan terlihat. Sapardi tidak bicara tentang cinta yang menyala-nyala, tapi tentang cinta yang bertahan dalam senyap. Tentang orang-orang yang tidak masuk dalam kisah romantis, tapi justru tahu persis bagaimana rasanya mencintai -tanpa syarat, tanpa keinginan untuk memiliki, bahkan tanpa harapan untuk dibalas. Ia menulis tentang hujan yang memilih jatuh ... meski tahu kalau tanah tidak b...