Hisashi Kashiwai - The Kamogawa Detective
Awalnya, saya sempat menyangka bahwa buku The Kamogawa Food Detective adalah novel tentang seorang detektif yang memecahkan kasus pembunuhan yang berkaitan dengan makanan - semacam Gourment Detective yang pernah tayang di channel tv Hallmark, atau buku detektif makanan lainnya. bayangan saya tentang misteri, ketegangan, dan penyelidikan membuat saya menaruh ekspektasi tertentu.
Ternyata saya salah. Buku ini bukan tentang kriminal atau misteri sama sekali. Buku ini bercerita tentang makanan, lebih tepatnya tentang menemukan kembali cita rasa yang membawa nostalgia bagi para pengunjung restoran.
Buku ini bercerita tentang sebuah restoran kecil di Kyoto yang dijalankan oleh ayah dan anak, yang ternyata menyediakan layanan yang unik. Mereka bukan hanya memasak dan menyajikan makanan, tetapi membantu para tamu yang datang ke kedai untuk menemukan kembali rasa dari masa lalu - hidangan yang pernah begitu lekat dengan kenangan, tapi hilang bersama waktu.
Di sinilah letak pesona sekaligus paradoks novel ini.
Alih-alih bergerak seperti kisah detektif yang saya bayangkan di awal, cerita berjalan dengan tempo yang tenang, hampir kontemplatif. Setiap bab menghadirkan tamu baru dengan cerita baru. Seseorang datang membawa ingatan tentang satu rasa, satu hidangan, satu momen yang tak lagi bisa diulang. Ayah dan anak itu mendengarkan, menelusuri detail yang samar, lalu mencoba merekonstruksi sesuatu yang sesungguhnya lebih rapuh daripada sebuah resep, yaitu ; memori.
Polanya berulang.
Tamu datang.
Cerita dibuka
Rasa dicari.
Hidangan disajikan.
Tidak ada ketegangan
Tidak ada ketegangan dramatis. Tidak ada konflik yang meledak. Bahkan nyaris tidak ada kejutan struktural. Buku ini seperti dengan sadar memilih jalur datar, tapi disitulah buku ini menemukan identitasnya.
Saat say membaca buku ini, saya teringat saat menonton Samurai Gourment, sebuah drama Jepang. Ceritanya bukan bergerak dari konflik besar, melainkan melalui suasana,momen-momen kecil yang sederhana, namun terasa hangat. Nuansa serupa juga saya dapatkan saat menonton Kodoku no Gurume, sebuah serial tv yang daya tariknya justru pada hal-hala remeh yang akrab; ekspresi menikmati makanan, jeda hening, dan ritme hidup yang tidak terburu-buru.
Budaya populer Jepang memang memiliki cara yang khas dalam mempeerlakukan makanan di dalam cerita. Makanan bukan sekedar objek, melainkan medium emosi. Ia menjadi pintu menuju nostalgia, kesepian, refleksi, bahkan penyembuhan kecil yang nyaris tak disadari.
Namun kenyamanan yang ditawarka buku ini juga datang dengan konsekuensinya.
Untuk novel setebal ini, alurnya terasa sangat aman. Terlalu konsisten. Setelah beberapa bab, pembaca mulai memahami iramanya. Tidak ada eskalasi konflik yang berarti, tidak ada perubahan kaakter yang tajam. Ayah dan anak pemilik restoran hadir lebih sebagai penyangga cerita daripada pusat perkembangan emosi.
Hal lain yang mengusik pikiran saya adalah detail makanannya.
Buku ini adalah novel tentang makanan, tetapi deskripsi kulinernya terasa cukup sederhana. Tidak banyak detail sensorik yang benar-benar menggugah indera. Jarang ada adegan yang membuat saya bisa mencium aromanya atau merasakan teksturnya. Saya beberapa kali berpikir, buku ini akan terasa jauh lebih hidup jika penyajian makanannya lebih kaya - atau bahkan disertai ilustrasi. Karena potensi emosionalnya sebenarnya besar.
Meski demikian, saya tidak bisa mengatakan bahwa buku ini mengecewakan.
Buku ini tetap menarik untuk dibaca dengan santai - tanpa tergesa.

Comments
Post a Comment