Edgar Allan Poe - Kisah-Kisah Tengah Malam
Saat pertama kali saya membuka halaman awal Kisah-Kisah Tengah Malam, saya benar-benar bingung. Saya terus bertanya-tanya, "Ini sebenarnya cerita apa?"
Rasanya sangat tidak biasa. Tidak ada dialog yang memecah keheningan, tidak ada interaksi antar tokoh yang bisa saya jadikan pegangan. Semua itu hanya narasi tunggal yang terus bergulir dari sudut pandang si narator itu sendiri. Saya sempat melewatkan satu cerita dengan perasaan hampa karena tidak menangkap apa yang sebenarnya terjadi. Namun begitu saya kembali membacanya dengan lebih sabar, segalanya terasa masuk akal. Saya baru sadar kalau saya bukan sedang membaca cerpen konvensional, melainkan seperti sedang mengintip buku harian seorang psikopat yang sangat jenius namun berbahaya.
Gaya bercerita Edgar Allan Poe memang sangat berbeda. Ia tidak butuh banyak suara untuk menciptakan kengerian. Justru karena tidak ada dialog, pikiran saya terjebak sepenuhnya dalam kepala si narator. Kita dipaksa menelan mentah-mentah segala obsesi, paranoia, dan pikiran-pikiran tidak sehat tokohnya, tanpa celah untuk menyanggah.
Poe menuliskan hal-hal gelap itu dengan kalimat yang sangat normal. Dia tidak menggunakan kata-kata yang berlebihan. Dia hanya merangkai kalimat dengan tenang, bahkan terasa sangat sopan. Namun, Ia tahu persis bagaimana menempatkan kata-kata itu agar menggiring pikiran kita otomatis membangun gambaran yang menakutkan tanpa perlu dia deskripsikan secara vulgar.
Dalam bukunya, Poe tidak hanya menulis tentang dendam atau kengerian semata. Ia sangat piawai membedah sisi obsesif manusia yang kelam. Seperti dalam cerita Potret Seorang Gadis, ia menunjukkan betapa mengerikannya ketika hasrat seseorang terhadap suatu objek atau tujuan berubah menjadi obsesi yang menghancurkan. Ia menangkap momen di mana logika seseorang mulai bergeser, di mana mereka tidak lagi sadar bahwa apa yang mereka lakukan telah melampaui batas kewarasan.
Membaca karya Poe, saya merasa diteror oleh tulisan yang sedang saya baca. Ada kengerian yang bersembunyi tanpa pernah sempat keluar, bahkan setelah buku saya tutup.
Saya kutipkan satu lirik dari cerita yang berjudul Misteri Rumah Keluarga Usher
Mereka yang berkeliaran di lembah itu
Melihat sesuatu di balik dua jendela istana
Roh gentayangan bergerak dan berdansa
Mengikuti irama suling yang ditiup;
Di atas Takhta, duduklah
Seorang penguasa istana
Gagah dan penuh kemenangan.
Buku Kisah-Kisah Tengah Malam karya Edgar Allan Poe bagi saya seperti kumpulan bisikan dingin tentang sisi gelap manusia - dendam, teror, hingga obsesi yang menghisap jiwa - yang tertinggal di pikiran dan hati.
-Selamat membaca

Comments
Post a Comment