Goenawan Mohamad -Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai
Gurun pasir tak sepenuhnya dialahkan, dan cadar selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang.
Saya percaya iman adalah soal menemukan jawaban yang benar. Semakin rapi jawaban itu, semakin tenang rasanya. Tuhan pun pelan-pelan menjadi sesuatu yang bisa dijelaskan—dengan bahasa yang tepat, dengan istilah yang sudah disepakati—sehingga kedekatan dengan Sang Pencipta terasa seperti sesuatu yang dapat dipastikan. Namun ketika membaca Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai karya Goenawan Mohamad, ketertiban itu retak, dan menyisakan sebuah celah kecil yang diam-diam menuntut untuk direnungi.
Buku Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai terdiri dari sembilan puluh sembilan esai, dan meskipun masing-masing berdiri sendiri, semuanya berdenyut pada satu pikiran pokok yang sama: keberanian untuk membiarkan Tuhan tetap menjadi misteri, dan iman tetap sebagai sebuah perjalanan yang tak pernah selesai. Goenawan tidak menganggap ketidakselesaian ini sebagai kegagalan iman. Sebaliknya, ia memperlakukannya sebagai kondisi paling apa adanya dari pengalaman beragama manusia.
Goenawan menulis seolah tahu: tidak ada kalimat, betapapun cermat dan indahnya, yang sanggup menampung Yang Tak Terhingga tanpa mereduksinya.
Dalam buku ini, iman tidak dipahami sebagai kepastian yang menenangkan, melainkan sebagai proses yang terus berdenyut. Ia bukan jawaban final, melainkan ruang antara—antara percaya dan tidak tahu, antara hasrat memahami dan kesadaran akan batas. Tuhan tidak ditempatkan sebagai objek pengetahuan, tetapi sebagai sesuatu yang selalu melampaui bahasa, selalu sedikit di luar jangkauan.
Kesadaran akan keterbatasan bahasa menjadi salah satu poros terpenting buku ini. Kata-kata—ayat, tafsir, konsep teologis—tidak pernah lebih dari penunjuk. Mereka mendekatkan, tetapi tidak memiliki. Bahasa bukan rumah bagi Tuhan; ia hanyalah jejak langkah manusia yang mencoba menyusuri sesuatu yang lebih besar darinya. Begitu bahasa merasa cukup, di situlah bahaya bermula: Tuhan dipadatkan menjadi konsep, dikuasai, dan akhirnya dipakai.
Dari titik itulah Goenawan membawa pembaca ke wilayah yang lebih genting, tanpa perlu meninggikan suara. Ketika Tuhan telah dipadatkan menjadi konsep yang mapan, iman perlahan kehilangan kerentanannya. Ia menjadi alat—untuk menilai, untuk membenarkan, bahkan untuk menyingkirkan. Kekerasan, dalam kerangka ini, tidak selalu lahir dari kebencian, melainkan dari keyakinan yang merasa telah selesai memahami apa yang seharusnya dibiarkan terbuka.
Namun Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai tidak berhenti pada kritik terhadap kepastian. Buku ini juga menolak godaan lain yang tak kalah berbahaya: romantisasi keraguan. Goenawan tidak memuja ragu sebagai tujuan, tidak pula menjadikannya kebajikan baru. Ragu hadir di sini sebagai konsekuensi—sesuatu yang tak terhindarkan ketika iman sungguh-sungguh dihidupi, bukan sekadar diwarisi. Ia bukan pengganti iman, melainkan bagian dari napasnya.
Kesembilan puluh sembilan esai dalam buku ini bergerak seperti fragmen-fragmen yang saling menyahut. Tidak ada upaya untuk menyusun bangunan besar yang utuh. Yang ada justru kesadaran bahwa pengalaman beragama manusia memang bersifat terpecah, tidak sistematis, sering kali saling bertentangan. Goenawan membiarkan ketidakteraturan itu tetap terlihat, seolah ingin mengatakan bahwa iman yang terlalu rapi barangkali justru kehilangan kedekatannya dengan kehidupan yang sesungguhnya.
Dalam banyak bagian, Tuhan hadir bukan melalui kepastian, melainkan melalui ketidakhadiran: dalam sunyi, dalam kehilangan, dalam pertanyaan yang tidak segera menemukan jawab. Kehadiran semacam ini tidak menawarkan ketenangan instan. Ia lebih menyerupai penundaan—sebuah ajakan untuk tinggal sedikit lebih lama bersama kegelisahan, tanpa tergesa-gesa mengubahnya menjadi kesimpulan.
Di titik ini, buku Goenawan terasa tidak sedang mengajarkan apa pun. Ia tidak memberi tuntunan moral, tidak menyodorkan metode beriman yang baru. Yang ia lakukan lebih sederhana, sekaligus lebih sulit: menjaga agar iman tidak berubah menjadi kepastian yang menutup kemungkinan. Menjaga agar Tuhan tidak diselesaikan oleh bahasa, oleh doktrin, oleh rasa aman manusia sendiri.
Membaca buku ini dari iman yang masih membutuhkan kerapian, saya tidak menemukan ajakan untuk membongkar keyakinan yang sudah ada. Yang saya temukan adalah jarak; jarak yang tidak memaksa untuk diseberangi, tetapi juga tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai bukanlah buku tentang menemukan Tuhan. Ia adalah pengingat yang tenang bahwa ada hal-hal yang tidak dimaksudkan untuk selesai. Bahwa iman, seperti hidup, barangkali memang lebih jujur ketika ia terus berjalan—dengan pertanyaan yang tetap terbuka, dan dengan bahasa yang sadar akan keterbatasannya sendiri.
Dan mungkin, justru dalam ketidaksampaiannya itu, iman menemukan martabatnya.

Comments
Post a Comment