Elizabeth Kolbert The Sixth Extinction
Buku ini disusun dengan bergerak maju mundur antara manusia masa lalu dan masa kini. Kolbert mengulas lima kepunahan massal sebelumnya - termasuk peristiwa yang mengakhiri era dinosaurus-, untuk menunjukkan bahwa kepunahan selalu menjadi bagian dari sejarah bumi. Namun perbandingan itu justru memperjelas perbedaan utama kepunahan keenam: kali ini penyebabnya bukan kekuatan alam yang tiba-tiba, melainkan akumulasi tindakan manusia yang berlangsung pelan, konsisten, dan sering kali dianggap wajar.
Melalui laporan lapangan, Kolbert memperkenalkan berbagai spesies yang telah punah atau berada di ambang kepunahan: katak emas Panama, terumbu karang, burung auk besar, hingga badak Sumatera. Kisah-kisah ini tidak disajikan sebagai narasi sentimental, melainkan sebagai contoh konkret dari perubahan yang lebih luas. Kepunahan muncul bukan sebagai tragedi tunggal, melainkan sebagai pola yang berulang di berbagai belahan dunia.
Elizabeth Kolbert adalah jurnalis di The New Yorker, dua kali meraih National Magazine Award, dengan fokus pada isu lingkungan dan perubahan iklim. Latar belakang jurnalistik ini membentuk cara ia menulis: berbasis riset, bergantung pada wawancara dan observasi lapangan, serta disiplin dalam penggunaan data. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai ahli, tetapi sebagai perantara antara seorang pekerja ilmiah dan pembaca umum.
Para ilmuwan dihadirkan sebagai tokoh penting dalam buku ini - ahli geologi yang meneliti inti laut dalam, ahli botani yang mengamati pergeseran garis pepohonan diPegunungan Andes, hingga ahli biologi kelautan yang menyelam di sekitar Great Barrier Reef. Kolbert menampilkan mereka bukan sebagai figur heroik, melainkan sebagai pekerja dalam berbagai disiplin ilmu yang bergulat dengan ketidakpastian. Ilmu pengetahuan dituliskan Kolbert sebagai proses yang terus disesuaikan, bukan sebagai kumpulan jawaban final.
Gaya penulis Kolbert cenderung jernih dan terkendali. Ia menghindari emosional dan tidak membangun kepanikan. Data ilmiah dipadukan dengan sejarah pemikiran - termasuk bagaimana konsep kepunahan pertama kali dirumuskan oleh Georges Cuvier di Paris pada abad ke-18 - tanpa terasa seperti membaca jurnal penelitian. Narasi lapangan hadir seperlunya, cukup memberi konteks, tanpa berubah menjadi kisah petualangan.
Saya sangat menyukai gaya penulisan Kolbert, yang tanpa sengaja memberi kesadaran akan keteraturan alam sebagai ciptaan Tuhan - sebuah sistem yang bekerja dengan hukum dan skala waktu yang jauh melampaui manusia. Di dalam sistem besar itu, dedikasi para ilmuwan untuk memahami perubahan terasa sebagai ketekunan yang penuh dengan keikhlasan. Saya sempat berpikir; manusia, sebagai mahluk ciptaan Tuhan paling cerdas justru malah tampil sebagai penyumbang terbesar bagi kerusakan yang terjadi. Kecerdasan tidak selalu melahirkan kebijaksanaan, seringkali menjadi alat untuk mempercepat eksploitasi. Manusia membangun dan mengubah bumi dengan keyakinan bahwa kemampuan berpikir memberinya kendali, bukan tanggung jawab untuk menahan diri.
Kepunahan menjadi persoalaan sikap, bukan semata persoalan alam. Jika manusia telah menjadi kekuatan yang memengaruhi bumi pada skala geologis, maka pertanyaan berikutnya bukan lagi apa yang sedang terjadi, melainkan bagaimana manusia memilih bertindak setelah menyadari perannya. Keberlangsungan hidup tidak hadir sebagai slogan heroik, malainkan sebagai tanggung jawab: memastikan dunia tetap aman, layak, dan memiliki masa depan yang panjang bagi seluruh kehidupan didalamnya.
Kolbert mengakhiri tulisan dalam The Sixth Exith Extinction bukan dengan sebuah kesimpulan, tapi pertanyaan : di dalam sistem sebesar ini, apa sebenarnya arti menjadi manusia?

Comments
Post a Comment